• gb3
  • Guru perempuan
  • Guru laki
  • New year 2025
  • Natal 24
  • New year 2025

Om Swastiastu! Selamat Datang di Website SMP NEGERI 2 GEROKGAK. Terimakasih atas kunjungannya!

Pencarian

Kontak Kami


SMP NEGERI 2 GEROKGAK

NPSN : 50100328

Jl.Seririt - Gilimanuk Desa Sumberkima Kec.Gerokgak Kab.Buleleng


info@smpn2gerokgak.sch.id

TLP : 03623361244


          

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 82206
Pengunjung : 44814
Hari ini : 14
Hits hari ini : 19
Member Online : 0
IP : 216.73.216.26
Proxy : -
Browser : Gecko Mozilla

MENGURAI MAKNA SURAT RA KARTINI, PAHLAWAN EMANSIPASI




Dalam surat Kartini kepada Ny Abendanon, tertanggal 27 Oktober 1902 :

Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban. Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.(https://waspada.co.id)

Jika dicermati surat Raden Ajeng Kartini di atas dapat dianalisis sikap dan pikiran RA Kartini terhadap masyarakat Eropa pada umumnya dan Belanda pada khususnya.

  1. Sudah lewat masanya bahwa orang pribumi (Jawa) tidak stagnan pada pemikiran lama, feodal atau image Sudah saatnya untuk merefresh dengan pikiran maju atau bahasa kekinian up date pengetahuan. Sehingga tidak lagi terkungkung dengan pemikiran lama, pemikiran pada posisi nyaman atau status quo atau posisi uenak.Di sinilah Kartini ada semangat pembaharuan. (Hemmm, terkadang kita merenung dalam introspeksi kedisinian: tidakkah kita terjebak pada posisi uenak sehingga malas aktif berkreasi dengan semangat baharu?)

 

  1. Dalam image lama Kartini bahwa masyarakat Eropa benar-benar terbaik, tiada tara. Pendidikan maju, iptek terkemuka, senjata modern tercipta, emansipasi gender sangat terbuka lebar. Namun rasa skeptis Kartini bertanya kepada sahabatnya yang orang Eropa, Nyonya Abendanon. Apakah ibu menganggap itu sempurna? Mungkin Kartini melihat bahwa dibalik kemajuan Eropa justru ditemukan hal yang tidak patut disebut peradaban. Menjajah bangsa lain karena belum majunya bangsa itu adalah contoh nyata mal praktek peradaban. Buntutnya tentu penistaan, penindasan, pemerkosaan hak-hak, pemenjaraan, kerja paksa, adu domba dan sebagainya adalah hal yang nyata-nyata terjadi saat itu. Pelakunya bangsa Eropa yang  sudah maju, Korbannya adalah bangsa Nusantara yang  masih terkebelakang saat itu. Inilah yang oleh Kartini tidak patut disebut beradab.

 

  1. Pada akhirnya Kartini (yang juga menjadi guru buat anak-anak perempuan Jawa) menginginkan bahwa murid-muridnya (kelak) tidak menjadi orang setengah eropa atau kebarat-baratan. Tentu maksudnya perilaku dan sikap yang jelek bukan pada unsur kemajuan yang baik. Ada yang positif dari kemajuan pikiran orang Eropa, namun jangan diikuti sisi negatifnya ( Hemm, ini juga kritik sinisme buat orang Indonesia : MELALI SIH OK OK AJA, NAMUN JANGAN MELALI SAMBILANG MELALUNG).

          *SEMANGAT HARI KARTINI PARA IBU GURU & PARA SISWA* (Sumberkima, 7 April 2023)




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :





   Kembali ke Atas